Mata uang rupiah dan dolar AS. (Antara/Fakhri Hermansyah)
TENPO, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Selasa, 8 September 2026. Mengacu pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot turun 0,10 persen atau 18 poin menjadi Rp17.622 per dolar AS.
Pelemahan tersebut terjadi setelah rupiah pada perdagangan sebelumnya berada di level Rp17.604 per dolar AS. Pergerakan rupiah masih dipengaruhi perkembangan dolar AS serta sentimen yang berkembang di pasar keuangan global.
Rupiah Masih Berada di Bawah Tekanan
Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan masih mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Pasar juga mencermati sejumlah indikator ekonomi AS yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Tekanan terhadap rupiah bukan merupakan kondisi yang sepenuhnya baru. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah juga tercatat melemah 0,11 persen ke level Rp17.661 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah pada 2026 memang beberapa kali bergerak di level tinggi terhadap dolar AS. Pada April lalu, rupiah bahkan sempat mencatat level terlemah secara intraday ketika berada di kisaran Rp17.305 per dolar AS.
Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed
Pelaku pasar saat ini masih memperhatikan arah kebijakan Federal Reserve. Perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan dolar AS sekaligus mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.
Jika dolar AS menguat, tekanan terhadap rupiah dapat meningkat karena investor cenderung mempertimbangkan kembali posisi asetnya di pasar negara berkembang.
Sebaliknya, ekspektasi penurunan suku bunga The Fed dapat memberikan ruang bagi mata uang emerging market untuk menguat karena daya tarik aset dalam dolar AS berpotensi berkurang.
BI Tetap Menjadi Perhatian Pasar
Selain faktor eksternal, pasar juga mencermati langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Intervensi di pasar valuta asing menjadi salah satu instrumen yang dapat digunakan bank sentral untuk meredam volatilitas rupiah.
Dengan posisi rupiah di sekitar Rp17.600 per dolar AS, perkembangan nilai tukar masih menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap berbagai aktivitas ekonomi, termasuk biaya impor, pembayaran kewajiban dalam valuta asing, serta tekanan terhadap harga barang yang memiliki komponen impor.
Pada perdagangan hari ini, rupiah tercatat melemah 0,10 persen ke Rp17.622 per dolar AS, melanjutkan tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.