TENPO, JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan alasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dibagikan kepada siswa pada hari pertama sekolah diliburkan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BGN Sudaryono mengatakan makanan tetap disalurkan karena sejumlah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah terlanjur menyiapkan makanan sebelum menerima informasi bahwa sekolah diliburkan akibat kondisi kabut asap.

Makanan Sudah Telanjur Disiapkan

Menurut Sudaryono, MBG pada dasarnya mengikuti jam operasional sekolah. Namun, dalam kasus karhutla, keputusan meliburkan sekolah di sejumlah daerah dapat muncul secara mendadak.

Akibatnya, dapur SPPG sudah membeli bahan makanan, mencuci dan memotong bahan, bahkan sebagian makanan telah dimasak ketika informasi mengenai peliburan sekolah diterima.

Karena makanan sudah berada dalam tahap produksi, BGN memutuskan makanan tersebut tetap disalurkan pada hari pertama sekolah diliburkan.

Orang Tua yang Mengambil

Penyaluran tidak dilakukan dengan cara mengumpulkan siswa di sekolah. Mekanismenya disesuaikan dengan kondisi daerah dan dilakukan melalui koordinasi bersama BPBD, kepala daerah, kepala sekolah, serta orang tua siswa.

Dalam mekanisme tersebut, orang tua siswa dapat mengambil makanan yang sudah disiapkan di sekolah atau titik distribusi yang ditentukan.

BGN menyebut mekanisme serupa diterapkan di sejumlah wilayah terdampak karhutla, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, hingga Sumatera.

Setelah Hari Pertama, Penyaluran Dihentikan

BGN menegaskan kebijakan tersebut bukan berarti MBG tetap dibagikan sepanjang sekolah diliburkan.

Setelah makanan yang telanjur dimasak pada hari pertama disalurkan, distribusi MBG dihentikan selama sekolah masih diliburkan.

Kebijakan yang sama berlaku ketika kegiatan belajar mengajar dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Kepala BGN mengatakan pihaknya telah memberikan edaran dan mekanisme operasional kepada dapur-dapur SPPG agar penyaluran MBG dapat menyesuaikan kondisi darurat di masing-masing daerah.

Keselamatan Tetap Jadi Prioritas

Kebijakan tersebut berjalan di tengah kondisi karhutla yang menyebabkan kualitas udara memburuk di sejumlah wilayah.

Pemerintah daerah di beberapa kawasan memilih meliburkan sekolah atau mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke sistem daring untuk melindungi siswa dari paparan asap. Kemendikdasmen juga menegaskan bahwa keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama, sementara hak belajar murid tetap harus dijaga.

Karena itu, penyaluran makanan yang sudah telanjur diproduksi dilakukan dengan mekanisme yang tidak mengharuskan siswa datang dan berkumpul di sekolah.

Bukan Pembagian MBG Selama Sekolah Libur

Penjelasan BGN sekaligus meluruskan anggapan bahwa program MBG tetap berjalan normal selama sekolah diliburkan akibat karhutla.

Yang tetap dibagikan hanya makanan yang sudah telanjur dimasak pada hari pertama, sedangkan distribusi berikutnya dihentikan sampai kegiatan sekolah kembali berjalan.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari pemborosan makanan yang sudah diproduksi, sekaligus memastikan proses distribusi tetap mempertimbangkan keselamatan masyarakat di tengah kondisi darurat karhutla.

Dengan mekanisme tersebut, BGN berupaya menjaga keseimbangan antara mencegah makanan terbuang, memastikan bantuan pangan tetap tersalurkan, dan tidak mengabaikan keselamatan siswa selama kabut asap masih terjadi.