TENPO, NUSA TENGGARA TIMUR — Presiden Prabowo Subianto tiba di Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk meninjau langsung penanganan bencana gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan penanganan terhadap warga terdampak berjalan dan kebutuhan masyarakat di lapangan segera dipenuhi.

Gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026. Hingga 26 Agustus, aktivitas seismik masih berlangsung. BMKG mencatat 7.429 gempa susulan, dengan gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2.

Pastikan Penanganan Berjalan

Kehadiran Prabowo di NTT menjadi bagian dari upaya pemerintah memastikan penanganan bencana tidak hanya dilakukan melalui koordinasi dari pusat, tetapi juga dipantau langsung di wilayah terdampak.

Sejak gempa terjadi, Presiden telah menginstruksikan jajaran pemerintah untuk bergerak cepat melakukan evakuasi, memberikan bantuan, dan memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi. Pemerintah pusat juga mengirimkan bantuan logistik serta mengerahkan personel ke sejumlah wilayah terdampak.

Kunjungan ini sekaligus menjadi kesempatan bagi Presiden untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi pengungsian, kerusakan infrastruktur, serta kebutuhan masyarakat yang masih berada dalam situasi darurat.

Ribuan Warga Masih Mengungsi

Gempa Flores menyebabkan kerusakan pada rumah warga dan sejumlah fasilitas publik. Data BNPB yang dilaporkan pada 21 Agustus mencatat 83 orang meninggal dunia dan sekitar 110 ribu warga mengungsi.

Jumlah tersebut menunjukkan besarnya dampak bencana yang harus ditangani pemerintah, terutama di wilayah yang memiliki akses geografis relatif sulit.

Selain persoalan tempat tinggal, masyarakat terdampak juga membutuhkan pasokan makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta dukungan logistik selama berada di lokasi pengungsian.

Pemerintah Kirim Ratusan Ton Bantuan

Upaya distribusi bantuan terus dilakukan pemerintah. BNPB telah mengirimkan sekitar 398 ton bantuan ke NTT sejak 15 Agustus.

Distribusi dilakukan melalui berbagai jalur, termasuk darat, laut menggunakan KRI dan kapal Pelni, serta udara. Tiga titik distribusi utama disiapkan di Bandara Halim, Labuan Bajo, dan Maumere.

Kondisi geografis NTT menjadi salah satu tantangan dalam proses distribusi. Karena itu, koordinasi antarlembaga menjadi penting agar bantuan dapat segera menjangkau masyarakat yang berada di wilayah terdampak.

Penanganan Tak Berhenti pada Masa Darurat

Setelah tahap penyelamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar, pemerintah juga mulai menyiapkan penanganan kerusakan rumah warga.

BNPB menyatakan bantuan perbaikan akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan. Rumah rusak ringan mendapat dukungan Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang Rp30 juta. Untuk rumah yang mengalami rusak berat, pemerintah menyiapkan pembangunan hunian tetap yang bersifat permanen.

Langkah tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat setelah masa tanggap darurat.

Aktivitas Gempa Masih Dipantau

Kondisi Flores masih membutuhkan kewaspadaan. Ribuan gempa susulan yang tercatat BMKG menunjukkan aktivitas tektonik di kawasan tersebut belum sepenuhnya berhenti.

Pemerintah bersama BMKG dan lembaga terkait terus melakukan pemantauan sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat mengenai perkembangan aktivitas gempa.

Kehadiran Presiden Prabowo di NTT diharapkan memperkuat koordinasi penanganan sekaligus memastikan respons pemerintah terhadap bencana berjalan dari evakuasi, bantuan kemanusiaan, pemulihan infrastruktur hingga rehabilitasi masyarakat terdampak.

Bagi warga Flores, tantangan berikutnya bukan hanya melewati fase darurat, tetapi juga memulihkan kehidupan mereka setelah gempa besar yang berdampak luas tersebut.